Senin, April 28, 2014

Agus Riyanto: Aku Harus Donor Darah

Donor darah mungkin bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang kurang bermanfaat. Bahkan banyak yang beranggapan bahwa donor darah merupakan hal yang haram, karena darah kita akan digunakan oleh orang lain. Bagaimana jika orang yang kita bantu tersebut berperilaku tercela, bukankah kita juga ikut menanggung dosanya? Karena darah kita mengalir dalam tubuhnya.

Anggapan tersebut juga pernah muncul dalam benak saya. Hal yang mengetuk hati saya untuk menghilangkan semua anggapan tersebut adalah pada saat kakak perempuan saya melahirkan. Sekitar tahun 2008 yang lalu, kakak saya melahirkan putranya yang ketiga, proses persalinannya disertai dengan pendarahan.

Hal ini mengakibatkan kakak saya memerlukan tambahan darah untuk proses pemulihannya. Saya datang menjenguk dan melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan. Pada saat itu juga, timbul niatan saya untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah. Bak gayung bersambut, pada bulan pebruari 2008 saya bersama teman saya menjadi pembina pramuka di sekolah.

Agenda rutin waktu itu adalah mengunjungi kantor PMI Kabupaten Karanganyar. Pada saat mendampingi itu, saya melakukan uji darah (Golongan darah dan Rhesus). Saya lalu ditawari untuk donor darah oleh petugas, tanpa pikir panjang saya mengiyakan. Dan pada saat itu juga saya menjadi pendonor. Tahun 2009, Kegiatan donor darah saya mulai berkurang karena saya harus melanjutkan kuliah lagi di Solo. Waktu yang menyebabkan saya tidak sempat untuk sekedar donor darah.

Akhirnya pada tahun 2010 sampai tahun 2011 paman saya ada yang operasi batu empedu. Hal ini mengingatkan saya kepada kejadian kakak saya. Dari kejadian itu, saya mulai aktif lagi donor darah sampai sekarang. Saat ini saya baru tahu makna “Setetes Darah Anda, Nyawa Bagi Kami”. Dan saya meyakini bahwa Tuhan menyediakan banyak sekali ladang untuk beramal, termasuk didalamnya kegiatan donor darah. Kegiatan donor darah merupakan kegiatan mulia, karena dari kegiatan yang kelihatannya sepele ini ternyata bergantung berjuta harapan dari orang lain yang membutuhkannya.

Sumber: http://ceritapmiku.blogspot.com/2014/04/agus-riyanto-aku-harus-donor-darah.html

Senin, April 21, 2014

Semangatku

Kegagalan adalah memang tak apat dipungkiri dalam hidup… pahit rasanya akan tetapi bagaimana rasa pahit itu kita olah menjadi manis… terkadang manusia sulit melupakan hal tersebut.. inilah yang membuat orang takut menantang hidup,, suatu ketika mereka sadar??? berkaca & bercermin pada drinya Ya Tuhan anda aku ini adaah orang yang berhasil kelak akan ku tatap hdup ini dengan indah.. tap kenapaperjalanan ini sangat sulit ku lalui banyak rintangan cobaan, halangan yang selalu menghimpit arahku…
tapi aku berjuang meniti hiidup ii ari bawah “KATA-KATA BIJAKPUN MEMBAKAR SEMANGATKU” Kegagalan lebi terhormat dari pada tidak sama sekali…. ku buktikan ucapan itu dengan perbuatan.. biarlah ku sendiri yang merancang hidup ini agar lebih baik tapi tak dapat ku pastikan apakah semua ini berakhir baik HANYA Allah SWT yang mempunyai satu kepastian terhadap umat-Nya.
tak perduli apa kata orang sejenak ku termenung “Lebih indah ku berbuat dari pada ku Berkata tanpa arti” ingin kubuktikan ini dengan Kenyataan.. bukan ucapan,, setidaknya aku berharap dalam hari-hari yang kulalui menjadi hari terang indah dan mempesona…. menatap cakrawala muka dunia dengan berani dan gagah… berharap semoga hari lebih baik dari pada sebelumnya.
sedikit kalimat penyemangat dalam hidup, meski terkadang aku tetap lalai karna aku seorang manusia, temen-temen manggil aku dgn nama ‘jiemie’ da pla MJ dll,… terserah kalian mo manggila apa. pada saat ini umurku sudah 23 tahun, sdah hampir tua… wkwkwkwk…
saat ini aktivitasku bekerja di suatu Perusahaan Swasta di sebuah kota terpencil, tak ada yg menarik dri sisi lain ttang diriku. pie semoga dengan blog ini, anda bisa tertarik berbagi dengan saya…

Kebersamaan bareng PMR itu Sesuatu .......

Tidak semua hal baik diawali oleh niat yang baik pula. Analog dengan pernyataan tersebut, terdapat sebuah pengalaman daripada awal kiprahku sebagai anggota Palang Merah Remaja ketika SMA. Bukan demi tujuan kemanusiaan, tapi dilatarbelakangi karena perasaan suka pada seorang kakak kelas yang kulihat pertama kali ketika pemeriksaan kesehatan bagi murid baru. 

Dari situ, timbulah obsesiku untuk mengikuti ekstrakurikuler yang sama dengannya. Seleksi untuk masuk PMR dilakukan dengan wawancara karena banyaknya peminat. Merasa memang jodoh, akupun diwawancarai kakak tersebut, dengan lantang dan tegas aku mengucapkan alasanku masuk PMR dengan kalimat-kalimat yang positif dan sesuai dengan jawaban yang diinginkan, yaitu mengabdi demi kemanusiaan. Perasaan bersalah karena berbohong sempat membuatku ingin mundur, terlebih setelah aku lolos seleksi dan menjalani yang namanya pelantikan, hal itu bahkan menguatkanku untuk mundur karena beratnya materi Kepalangmerahan, belum lagi Pertolongan Pertama, dan materi lainnya sekaligus praktik yang jauh dari diriku yang tak acuh pada orang lain. 

Namun, sungguh luar biasa, aku mampu bertahan hanya karena ingin dilihat oleh kakak kelas tersebut, bahkan memaksa diri agar lolos spesialisasi yang sama dengannya walaupun aku tahu spesialisasi PP lebih membutuhkan seorang pria karena mengingat praktiknya menguras tenaga. Dengan tekad bulat, aku mencoba mengasah diri dengan sering bertugas di UKS ketika jam istirahat, mengobati luka, memberi obat bagi yang sakit dan menggali informasi pada perawat di UKS. Sambil menyelam minum air, begitulah apa yang ku kerjakan membuatku sering bertemu dengannya walau hanya bertegur sapa dan tersenyum. Belum, aku masih belum menemukan passion-ku di PMR sampai akhirnya aku menginjak kelas 2 dan bersama teman-teman PMR mengikuti JUMBARA Cabang Gianyar. 

Persiapan yang menguras tenaga membuatku fokus dan berlatih serius dengan teman-teman walaupun sesekali melirik kakak tersebut, sampai akhirnya selama seminggu kami semua kemah di lapangan dekat Pura Samuan Tiga. Di perkemahan, aku yang tak biasa makan berbagi piring ataupun minum merasa mulai berubah, tak ada perasaan jijik bahkan keegoisan untuk menang sendiri, dan untuk pertama kali aku merasakan yang namanya KEBERSAMAAN. Kami seperti keluarga seminggu itu, saling melindungi, saling berbagi sedih dan suka, bahkan ketika aku kalah di PP saat hiking, mereka tak menyalahkanku dan malah menyemangatiku untuk maju dan berbenah diri padahiking selanjutnya. Kebersamaan dan kerja keras kami terbayar dengan menjadi juara 1 peserta terbaik, bukan hanya itu, lomba mading,sketsa pin, drama, dan paduan suara kami borong, sampai karena betahnya kami bersama, kami sedih ketika harus pulang, begitu juga dengan peserta dari sekolah lain. 

Semenjak itulah aku mulai aktif kegiatan PMR, mulai dari memberi bantuan ke panti asuhan dan menghibur anak yatim piatu, bertugas jaga saat upacara bendera, terlibat kegiatan donor darah walaupun sekadar membantu para dokter dan lainnya. Karena rasa kekeluargaan sesama PMR akupun merasa seperti saudara dengan kakak tersebut, seperti moto kita “Siamo Tutti Fratelli”. Bahkan saat sekarang kuliah, aku memilih UKM KSR PMI, seperti sebuah tabel kebenaran dalam logika matematika, jika antisedenya salah, tetapi konsekuen benar, maka implikasinya bernilai benar. Awalnya aku memulainya dengan niat yang jauh dari kata positif, tapi mampu membawaku pada kebenaran dan menjadikannya sesuatu yang positif bagi diriku dan orang lain.

 

Copyright @ 2018 Mujiono.